oleh

Progres Proyek Gedung Diagnostic Center 54 %, Di Sinyalir Bukti Kegagalan Direktur RSUD Dumai

lnfestigasi-dumai-Proyek pekerjaan pembangunan Gedung Diagnostic Center RSUD kota Dumai hanya di bayar sesuai bobot pekerjaan 54 %.Sedangkan sisa 46 % atau sekitar Rp.9 miliar  dana yang tidak terserap di kembalikan ke kas negara atau kementerian keuangan.Demikian di ungkapkan kepala tata usaha RSUD kota Dumai Yusrizal,ST beberapa waktu lalu.

Proyek pembangunan gedung yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2019 yang di anggarkan senilai Rp. 18,3 milyar dan pelaksanaan selama 150 hari kerja, terhitung pelaksanaan pekerjaan  19 Juli 2019, dan berakhir pada 19 Desember 2019.

Dalam sejarah proyek  pembangunan gedung di RSUD kota Dumai, ini yang pertama kali pekerjaan bangunan sangat jauh dari target 70 %, karena apabila progres pekerjaan mencapai 70 %, sisa yang 30 %, dapat kembali ke kas daerah pemko dumai, tidak di kembalikan ke pusat atau kas negara.Sisa anggaran dana yang 30 % dapat di lakukan pengganggaran di tahun berikutnya agar bangunan utuh terbangun sesuai perencanaan dan dapat di pakai untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat Dumai.

Redaksi menelusuri jejak gagal proyek gedung Diagnostic Center RSUD Dumai, di antaranya, proses pelelangan pekerjaan yang di mulai mendekati pertengahan tahun, bukan di awal tahun.Selain itu, dalam pelaksanaan pekerjaan, masa waktu pengadaan dan pekerjaan tiang pancang memakan waktu  hampir 2 bulan.

Informasi yang di peroleh, selama menjabat Direktur RSUD Dumai, drg.Ridhonaldi jarang berada di kantor, hampir setiap pekan pergi  ke luar kota dengan alasan dinas dengan memakai dana APBD Dumai, dan jika dana APBD telah habis terpakai, dapat memakai anggaran BLUD RSUD Dumai.Ruang kerja direktur yang terletak di lantai 2 jarang di pergunakan, jadi jangan heran jika ingin konfirmasi dengan direktur walau ada di RSUD, namun tidak ada di lantai 2 yang biasa di pergunakan oleh Direktur RSUD Dumai.Hasil pelacakan, ternyata drg.Ridhonaldi sering berkantor di lantai 3 RSUD.

Melobi anggaran di kementerian sangat susah, padahal yang melobi anggaran ke pusat adalah pejabat atau Direktur RSUD Dumai sebelum di gantikan oleh drg.Ridhonaldi.Dengan tidak rampungnya pembangunan gedung Diagnostic Center RSUD Dumai di sinyalir bukti kegagalan drg.Ridhonaldi sebagai direktur RSUD Dumai.Kabarnya, Walikota Dumai Zulkifli AS marah, terkait proyek tersebut tidak rampung dan sisa dana kembali ke pusat.Nah, salah sendiri Walikota Dumai,  kenapa memilih orang yang tidak tepat untuk figur Direktur RSUD Dumai.(riki)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed