Budidaya Lebah Madu Ramah Lingkungan Pertamina Berbuah Manis

  • Bagikan
Lebah Madu Ramah Lingkungan

INFESTIGAS.COM – Budidaya lebah madu ramah lingkungan hasil sentuhan Pertamina berbuah manis. Madu jenis Apis Cerana, Apis Dorsata, dan Trigona dibudidayakan di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Beberapa kelompok membudidayakan lebah madu yang kini cukup di minati. Lebah Trigona berwarna hitam berukuran kecil sekitar 4 milimeter dan tidak menyengat.

Biasanya bersarang pada lubang pepohonan, membentuk sarang berbentuk bulat-bulat kecil menyerupai gentong berdiameter 1 cm. Dari sarang berbentuk gentong tersebut, madu bisa “di sesap” dengan menggunakan sedotan.

BACA : Pertamina Dukung Program Eduwisata Arboretum Gambut Marsawa

Rahmadi, Ketua Kelompok Madu Biene, Desa Tanjung Leban dalam rilis kepada Energia pada 8 September 2021 mengatakan Madu Trigona merupakan produk unggulan.

“Per kati atau sebotol kecap kaca kira-kira 650 mili harganya dua ratus lima puluh ribu rupiah. Ini menjadi produk unggulan dari segi permaduan,” ujarnya.

Ia juga mengajak para tamu menyedot madu lebah Trigona langsung dari sarangnya. Salah satu yang mengunjungi Kelompok Budidaya Madu Biene tersebut ialah Arya Dwi Paramita, VP CSR & SMEPP PT Pertamina.

“Segar, tidak terlalu manis,” kata Arya. Madu lebah Trigona, Apis Cerana, Apis Dorsata, di kenal sebagai pendukung imunitas tubuh yang banyak di cari selama pandemi Covid-19.

“Awal Covid-19 tahun lalu permintaan madu tidak hanya dari Bengkalis dan Pekanbaru saja. Bahkan dari luar daerah. Kalau di hitung selama tahuan 2020 lalu kelompok bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 244 juta,” jelas Rahmadi.

Budidaya Lebah Madu Ramah Lingkungan

Rahmadi dan kelompoknya membudidayakan lebah madu di sekitar rumah. Kotak tempat sarang lebah di letakkan di atas bangku kecil di halaman rumah. Sehingga mereka tidak perlu repot- repot berburu madu ke hutan.

Dulu dirinya biasa mencari madu di hutan dengan sistem pengasapan. Pengasapan menggunakan sabut kelapa yang dibakar untuk menghalau lebah dan di panen madunya.

“Kebiasaan tersebutlah, kami para pencari madu selalu menjadi kambing hitam menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Riau,” kata Rahmadi.

Pendampingan dari Kilang Pertamina Unit Produksi Sei Pakning melalui Program Budidaya Madu Hutan Gambut, membuat penyebab kebakaran hutan dan lahan mulai hilang.

Melalui program tersebut, Rahmadi dan teman-temannya yang tergabung dalam Kelompok Madu Biene, di ajarkan mengembangkan budidaya madu hutan, dari hulu ke hilir.

Pendampingan Pertamina Budidaya Lebah Madu

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang wilayah Dumai PT. Pertamina Kilang Internasional, Imam Rismanto menjelaskan program budidaya madu di rintis sejak tahun 2019.

Di awali dengan edukasi dan penyuluhan terkait wawasan lingkungan dan panen madu tanpa bakar.

“Awalnya warga masih awam akan hal tersebut. Namun lambat laun mulai menunjukkan minat setelah mendapat pelatihan budidaya lebah madu yang bisa di lakukan di sekitar rumah mereka sendiri tanpa harus ke hutan,” katanya.

“Tahun ini kami juga menambahkan pelatihan bagi warga untuk mengembangkan budidaya lebah madu jenis mellifera,” jelas Imam.

BACA : Pertamina Berdayakan Masyarakat Lewat Pertanian Nanas Lahan Gambut

Keberhasilan Rahmadi dan anggota kelomponya, mendorong minat warga lain untuk belajar budidaya madu. Menurutnya sudah ada 50 orang dari desa Tanjung Leban dan 60 dari luar desa yang berbagi ilmu budidaya lebah madu.

“Sekarang kami menjadi pionir dalam kegiatan budidaya madu hutan gambut di kawasan Kecamatan Bandar Laksamana, melalui penerapan budidaya dan pemanenan yang berorientasi ramah lingkungan,” kata Rahmadi.

Produk Madu di beri merek Biene di jual dalam bentuk curah maupun kemasan. Madu curah biasa dikirim ke Pekanbaru.

Sementara produk kemasan 225 ml di jual di kisaran Rp 65 ribu – Rp 75 ribu. Secara online di marketplace dengan pembeli beragam dari seluruh Indonesia. Produk sudah mendapatkan izin PIRT (Pangan, Industri Rumah Tangga) dan sertifikasi halal.

Arya yang melihat langsung panen madu mengungkapkan kegiatan ini sebagai salah satu bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung tercapainya SDGs ke-8 yakni mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, produktif dan pekerjaan yang layak.

“Yang paling penting bahwa budidaya lebah madu ramah lingkungan ini telah membangun kepedulian masyarakat untuk merawat dan melestarikan lingkungan melalui pencegahan kebakaran di lahan gambut,” tutup Arya.

Sumber: energia.id

  • Bagikan