Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa peringatan Hari Raya Waisak 2026 yang berlangsung di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, menjadi bukti nyata kuatnya kerukunan umat beragama di Indonesia.
Menurutnya, perayaan yang berlangsung penuh khidmat tersebut menunjukkan bahwa harmoni antarumat beragama tidak hanya tercermin dalam data statistik, tetapi juga terlihat secara langsung dalam kehidupan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E. Tahun 2026 yang digelar di Candi Borobudur pada Minggu (31/5/2026) malam.
Dalam sambutannya, Menag menjelaskan bahwa berdasarkan data nasional, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Indonesia saat ini berada pada posisi yang sangat kuat dan membanggakan, dengan angka yang stabil di atas 76,0.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa secara umum kohesi sosial serta toleransi antarumat beragama di Tanah Air berada dalam kondisi yang sehat dan terus terjaga.
Menurutnya, capaian indeks tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai angka statistik semata. Nilai kerukunan yang tinggi harus mampu diwujudkan menjadi kekuatan moral yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Ia menilai perayaan Hari Raya Waisak 2026 di Borobudur merupakan bukti empiris bahwa tingginya indeks kerukunan mencerminkan kesadaran batin masyarakat Indonesia yang semakin inklusif, dewasa, dan bijaksana dalam menyikapi keberagaman.
“Angka itu harus dapat bertransformasi menjadi kedaulatan moral. Perayaan Waisak di Borobudur hari ini adalah bukti empiris bahwa angka indeks yang tinggi itu adalah cerminan kesadaran batin bangsa Indonesia yang semakin inklusif, dewasa dan bijaksana,” ujar Nasaruddin Umar.
Lebih lanjut, Menag menegaskan bahwa Kementerian Agama terus memperkuat fondasi kebudayaan dan peradaban bangsa melalui berbagai program strategis, termasuk penguatan Moderasi Beragama. Program tersebut diharapkan mampu menjaga harmoni sosial sekaligus memperkuat persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Pada kesempatan itu, Nasaruddin juga menyoroti tema Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E. Tahun 2026, yakni “Dharma Sumber Moral dan Kebajikan”.
Ia menilai tema tersebut sangat relevan dengan tantangan kemanusiaan yang dihadapi dunia saat ini.
Menurutnya, pesan yang terkandung dalam tema tersebut hadir layaknya oase yang menyejukkan di tengah berbagai kegelisahan dan dinamika peradaban modern. Dalam pemahamannya, Dharma merupakan hukum keselarasan semesta sekaligus kebenaran universal yang menjadi pedoman kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai Dharma, maka moralitas dan kebajikan tidak lagi muncul sebagai kewajiban yang dipaksakan. Sebaliknya, sikap baik akan mengalir secara alami sebagaimana air yang menghidupi lingkungan di sekitarnya.
“Ketika seseorang hidup dan bergerak di dalam koridor Dharma, maka moralitas dan kebajikan tidak lagi lahir sebagai kewajiban yang memaksa, melainkan mengalir secara alamiah, seperti air terjun yang mencari tempat terendah untuk menghidupi tanaman di sekitarnya,” kata Menag.
Nasaruddin menambahkan bahwa kebajikan yang lahir dari kemurnian hati bersifat universal dan tidak mengenal batas suku, ras, maupun agama. Kebajikan, menurutnya, hanya berlandaskan ketulusan untuk memberikan manfaat kepada sesama makhluk.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dunia saat ini masih dihadapkan pada berbagai konflik, peperangan, dan tindakan kekerasan yang dipicu oleh egoisme kelompok, keserakahan, serta kebencian. Karena itu, momentum Hari Raya Waisak 2026 dinilai penting untuk menguatkan kembali komitmen bersama dalam membangun perdamaian.
Dari pelataran Candi Borobudur, Menag mengajak seluruh masyarakat untuk menyerukan pesan damai kepada dunia. Ia berharap nilai-nilai kebajikan yang diajarkan dalam Waisak dapat menjadi inspirasi dalam menciptakan kehidupan yang lebih harmonis dan penuh toleransi.
Dalam sambutannya, Nasaruddin juga mengutip pesan moral yang terdapat dalam kitab suci Dhammapada Syair 5. Menurutnya, ajaran Sang Buddha Gautama mengandung hukum abadi yang relevan sepanjang masa bagi perjalanan peradaban manusia.
“Kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Kebencian hanya akan berakhir jika dibalas dengan cinta kasih. Inilah hukum abadi,” kutipnya.
Menutup sambutannya, Menteri Agama menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E. kepada seluruh umat Buddha di Indonesia.
Ia mengajak masyarakat untuk membawa semangat kedamaian yang dirasakan selama perayaan di Borobudur ke lingkungan keluarga, tempat kerja, serta kehidupan sosial sehari-hari.
“Mari kita pulang dari perayaan ini dengan membawa sekeping kedamaian Borobudur ke rumah kita masing-masing, ke tempat kerja kita, dan ke lingkungan tempat tinggal kita,” tutupnya.












