Oknum Aparatur Pemko Dumai Di Duga Terlibat Mafia Tanah Di Kecamatan Sungai Sembilan

  • Bagikan

Dumai- Saat ini, Kecamatan Sungai Sembilan Kota Dumai menjadi primadona Investor sawit dari luar negeri dan dalam negeri.Puluhan perusahaan besar yang bergerak pada industri sawit dalam 10 tahun terakhir mendirikan usaha pabrik penampungan atau Tanki Timbun CPO di kecamatan Sungai Sembilan terutama di kelurahan Lubuk Gaung dan Tanjung Penyembal.

Namun, perusahaan jika ingin menanam investasi di Kecamatan Sungai Sembilan, membeli tanah masyarakat harus waspada dan hati-hati terhadap Calo dan mafia tanah.Tumpang tindih  surat tanah kerap terjadi ketika perusahaan akan membangun pabrik CPO dan turunannya.Pasti ada klaim warga atau masyarakat yang mengaku sebagai pemilik tanah terhadap satu objek tanah, bahkan untuk satu objek tanah bisa timbul lebih dari satu surat tanah atau pemiliknya lebih dari satu orang.

Ini dapat terjadi karena ada mafia tanah yang di sinyalir  oknum aparatur Pemko Dumai dari tingkat kelurahan dan Kecamatan Sungai Sembilan serta mantan kepala kepenghuluan  dan mantan kepala Desa di Lubuk Gaung dan Tanjung Penyembal di duga terlibat mafia tanah.Dahulu Tanjung Penyembal masuk wilayah Lubuk Gaung  Kecamatan Bukit Kapur Kabupaten Bengkalis, di mana sebelum tahun 1999, Dumai masuk dalam Kota Administratif (Kotif).

Sebagai salah satu contoh kasus adalah satu objek  tanah ada 2 orang yang mempunyai surat tanah.Yaitu tanah  milik Tengku Ibrahim (almarhum) seluas 20.400 M2 yang saat ini berada di Kelurahan Tanjung Penyembal (Kecamatan Sungai Sembilan) yang sebelum pemekaran wilayah masuk  Kecamatan Bukit Kapur.Surat Tanah dengan Surat Keterangan No.35/BK/LG/1994 atas nama Tengku Ibrahim masuk dalam kelompok Bedul dengan ukuran 60 meter x 340 meter terletak di Dusun Nerbit Besar Desa Lubuk Gaung yang di tanda tangani oleh Kepala Desa Lubuk Gaung Nur Zaman A tertanggal 20 April 1994.Sejak memiliki tanah dengan bukti surat keterangan tanah, Tengku Ibrahim (almarhum) menurut ahli waris belum pernah menjual tanah kepada siapapun juga.Sedangkan dengan objek tanah yang sama, dengan kertas  surat Segel tahun 1982 tanggal 24 Mei 1988 seolah Tengku Ibrahim ada menjual tanah kepada Nurdin A yang di ketahui oleh dan di tanda tangani Kepala Desa Lubuk Gaung NURZAMAN A.Dari penelitian dan pengamatan penulis terhadap 2 surat tanah dengan satu objek tanah yang sama terlihat jelas, bahwa surat tanah atas nama Nurdin A di duga Palsu.Indikasi tersebut dapat di lihat secara jelas dan nyata.

Pertama, tanda tangan Tengku Ibrahim di surat tanah miliknya berbeda atau tidak sama  dengan tanda tangan di surat milik Nurdin A.

Kedua, kertas segel tahun 1982 di surat tanah Nurdin A nomor surat dan tanggal pembuatan surat tahun 1988 namun angka satuan 8 di timpa menjadi angka 3, untuk menyesuaikan dengan kertas segel tahun 1982 agar perbedaan tahun segel tidak jauh.Artinya, setelah surat di ketik angka 1988  baru di sadari bahwa di “hukum” tahun segel 1982 sehingga angka satuan 8 di timpa ketik menjadi angka 3.

Ke tiga, pada tahun 1980 sampai dengan tahun 1986 Lubuk Gaung masih dalam status Kepenghuluan Lubuk Gaung Bukan Desa.Dalam kertas Segel surat tanah Nurdin A yang di buat tahun 1983 tertera Desa Lubuk Gaung yang sebenarnya Desa belum ada.Dari sini nampak jelas surat di sinyalir di rekayasa atau ada unsur kesengajaan memalsukan surat tanah karena tidak jeli melihat administrasi pemerintahan.

Ke empat, Stempel Kepala Desa pada surat segel Nurdin A di tahun 1983 menggunakan stempel besar, sementara pada tahun 1983, masih menggunakan stempel kecil.Pada segel surat tanah Tengku Ibrahim tahun 1994 menggunakan  stempel besar.

Ke lima, sepadan tanah di surat segel milik Tengku Ibrahim semua orang yang bersepadan  mempunyai tanah, sedangkan sepadan tanah milik Nurdin A di peroleh info tidak punya tanah dalam arti nama yang bersepadan di sinyalir di rekayasa dan di buat- buat.

Kendati kedua surat segel antara milik Nurdin A dan Tengku Ibrahim di tanda tangani oleh orang yang sama menjabat saat itu, namun pada tulisan nama dan tanda tangan Nur Zaman A terdapat  perbedaan.Pada surat segel milik Nurdin A tertulis NURZAMAN.A, kata NUR menyatu dengan kata ZAMAN, sedangkan dalam surat segel  Tengku Ibrahim yang di tanda tangani oleh NUR ZAMAN.A , di mana kata NUR terpisah dengan ZAMAN dengan tanda tangan agak lebar sedangkan di kertas segel milik Nurdin. A tanda tangan NURZAMAN tidak melebar.Di duga kuat, pembuatan surat tanah atas nama Nurdin A setelah Tengku Ibrahim wafat tahun 2014.Di di peroleh informasi bahwa Nurdin A adalah adek dari Nur Zaman.A.

Kembali kepada mencari sosok mafia tanah di Tanjung Penyembal Kecamatan Sungai Sembilan, di mana Investor butuh tanah yang cukup luas untuk membangun pabrik CPO.Di sini perusahaan yang butuh tanah membutuhkan broker atau calo untuk melobi masyarakat mau menjual tanah. Hasil penelusuran PT.T menunjuk JZ untuk membeli tanah masyarakat yang berdekatan dengan PT.Agro.JZ merupakan pengusaha bermata sipit yang kerap menggarap tanah di kota Dumai.Kabarnya PT.T membayar ganti rugi tanah masyarakat lewat JZ sebesar Rp.1.250.000, sedangkan JZ membeli tanah masyarakat dengan harga maksimal Rp.850.000. Panjar uang tanah telah di beri 30 % oleh JZ kepada masyarakat. Yang telah di sepakati antara JZ dan  masyarakat sekitar 60 hektar.Pembeli tanah dari perusahaan meminta warga untuk membayar retribusi PBB ke kantor Bapenda Pemko Dumai untuk menandakan bahwa tanah tersebut milik warga yang membayar PBB.Padahal pembayaran retribusi PBB tidak menjadi jaminan bahwa tanah itu milik atas nama yang membayar PBB.Jika ada pemalsuan surat tanah, retribusi PBB bukan suatu jaminan bahwa tanah itu miliknya.Karena Polri mempunyai Laborotorium Kriminal untuk melihat Asli atau Palsu suatu surat tanah.

Tanah milik Tengku Ibrahim (almarhum) ternyata tidak di bayar oleh  JZ dan  hanya membayar tanah masyarakat lewat persetujuan Lurah Tanjung Penyembal Ahmad.Yang di setujui bayar oleh Lurah Ahmad adalah tanah milik Nurdin.A tanpa mempedulikan surat tanah milik Tengku Ibrahim (almarhum). Ahmad sebagai Lurah dan aparatur Pemerintah Kota Dumai di tingkat kelurahan tidak jeli dan teliti memeriksa keaslian surat milik Nurdin.A dan membandingkan secara seksama dengan surat tanah milik Tengku Ibrahim (almarhum). Lurah Ahmad Di Duga  bagian dari mafia tanah di Tanjung Penyembal ?

Selain Lurah Ahmad yang turut “bermain” ganti untung tanah di Kelurahan Tanjung Penyembal adalah perangkat di kecamatan Sungai Sembilan yaitu Sekretaris Camat Muhtadi.Bahkan kabarnya Muhtadi punya tanah di lokasi yang akan di ganti untung di Kelurahan Tanjung Penyembal.

Tanah yang sebenarnya milik Tengku Ibrahim (almarhum) seluas 20.400 M2 tidak di bayar oleh JZ, karena hasil persetujuan Lurah Ahmad dan Sekcam Muhtadi serta Camat Sungai Sembilan Tanwir yang di bayarkan surat di duga palsu milik Nurdin. A.Surat atas nama Nurdin A telah di jual kepada JZ yang di ketahui dan di tanda tangani Pemerintah Kecamatan Sungai Sembilan 25 Juni 2021.

Lurah Tanjung Penyembal Ahmad ketika beberapa kali di telpon mengaku sibuk dan tidak bisa di jumpai.Begitu juga Camat Sungai Sembilan Tanwir Azar Efendi ketika di konfirmasi tidak menjawab dan tidak ada waktu untuk di tunjukkan pembanding 2 surat tanah  dengan 2 orang pemilik tanah dengan objek tanah yang sama.Ahmad dan Tanwir ketika di konfirmasi via WA juga tidak menjawab. Tipe 2 orang pejabat ini harus di copot dari jabatannya oleh Walikota Dumai Paisal karena memperjualbelikan hak tanah masyarakat yang berhak menerima ganti untung. Ketika di konfirmasi kepada Walikota Dumai  Paisal terkait Aparatur Pemerintah Kota Dumai Di Duga Terlibat Mafia Tanah di Kecamatan Sungai Sembilan, “saya belum tahu pula, ini kalau tidak salah sebelum saya”, ujar Paisal yang setiap di konfirmasi selalu berkenan menjawab.

Presiden Jokowi beberapa waktu lalu menginstruksikan kepada Polri untuk menangkap mafia tanah.Nah, para mafia tanah di Tanjung Penyembal dan Kecamatan Sungai Sembilan harus di berantas dan Polri harus menangkap dan memasukkan para mafia tanah ke dalam penjara.(rh)

  • Bagikan